"Computational Thinking" Siapkan Siswa Indonesia Bersaing di Dunia

Ilustrasi siswa SD.

Pengamat Pendidikan dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, mengatakan, sistem pendidikan Indonesia saat ini belum dapat menjawab tantangan global. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan survei dari berbagai lembaga-lembaga kredibel dunia yang selalu menempatkan Indonesia menempati urutan bawah.

Menurut Indra, salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan Science, Technology, Engineering and Math (STEM).
"Sistem ini bertujuan untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari, juga dengan proses pembelajaran yang melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier," kata Indra kepada SP, Minggu (16/10)
Selanjutnya, Indra mengatakan, hadirnya STEM diharapkan membuat sekolah mampu bersaing. Untuk itu, Indonesia harus menyesuaikan kurikulum dengan mengembangkan sistem STEM, sehingga sekolah mampu menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan.
Dijelaskan Indra, STEM merupakan sebuah model pembelajaran populer di dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif. Hal itu terjadi karena sistem ini menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan teknik.
Selanjutnya, Indra menjelaskan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk diterapkan di sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Dalam artian, bukan sekadar belajar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi, atau berpikir layaknya komputer.
Lebih lanjut, Indra juga menuturkan, Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah. Yang tadinya dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi. Maka, sekolah yang menerapkan keterampilan computational thinking akan menjadi barometer bagi sekolah lain dan mampu bersaing dan menjadi pemimpin dalam penerapan pembelajaran abad 21.
Apalagi diketahui, perkembangan dunia pendidikan sangat cepat. Untuk itu, Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global. Sebab, sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan.
Sementara itu, pada seminar “Computational Thinking, A Global Trend in Education”, Kepala Pengembangan Mahasiswa Sampoerna University, Eddy Henry, mengatakan, computational thinking merupakan sebuah pendekatan yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur.
Dikatakan dia, lembaganya telah mengimplementasikan Pendidikan Abad 21 melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts dan Math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.
Dia menyebutkan, pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak (TK) dan tingkat sekolah dasar (SD) melalui pengajaran dan permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana.
"Pada tingkat pendidikan menengah hingga perguruan tinggi, siswa akan diberikan tingkat pemecahan permasalahan yang lebih kompleks. Mereka juga diperkenalkan bagaimana memanfaatkan alat bantu seperti komputer dan perangkat digital sesuai tujuannya" jelas Eddy.
Mendatang, ia meyakini penerapan computational thinking mampu menyiapkan para siswa untuk menghadapi kebutuhan kerja di masa depan dan meraih kesuksesan di era globalisasi.
Share on Google Plus

About AisyahFNA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net